Nelayan dan Petani Terancam Kehilangan Mata Pencarian
Abd Hadi, perwakilan warga Desa Lelang Matamaling, menegaskan bahwa penambangan batuan gamping akan melenyapkan sumber kehidupan sekitar 400 kepala keluarga di desanya. Mayoritas warga (70 persen) bekerja sebagai nelayan tangkap, sementara 30 persen lainnya adalah petani yang juga sesekali melaut.
“Pertanian menjadi sumber utama penghidupan kami sejak turun-temurun. Hasil panen seperti ubi banggai, kelapa, cengkeh, dan sayuran menjadi tumpuan biaya hidup dan pendidikan anak-anak kami,” ungkap Abd Hadi.
Di sektor perikanan, nelayan seperti Nardi bisa menghasilkan tangkapan ikan hingga Rp3 juta sekali melaut, menopang kebutuhan keluarganya. Namun, jika penambangan gamping berjalan, warga khawatir sumber air, lahan pertanian, dan wilayah pesisir akan rusak. Terlebih, sebagian lahan warga masuk dalam WIUP perusahaan.
“Bencana ekologis seperti banjir dan longsor akan mengancam jika tambang mulai beroperasi di desa kami,” tambah Abd Hadi, menyuarakan kekhawatiran warga akan dampak lingkungan yang tak terhindarkan.
Warga juga menyoroti ancaman terhadap Mata Air Laanding, sumber air bersih utama yang selama ini debitnya stabil bahkan saat musim kemarau. Keberadaan tambang dikhawatirkan akan merusak pasokan air vital ini.
Merespons ancaman serius ini, JATAM dan warga mendesak Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah untuk segera mencabut WIUP yang telah diberikan kepada empat perusahaan tambang di Desa Lelang Matamaling, Bangkep.(*abd)














